http://youtu.be/rb40d0jRUIo
Bisnis penjualan langsung (MLM ataupun direct selling) punya dua
senjata andalan. Yang pertama adalah orang-orang (distributor) topnya.
Selain diharapkan kontribusi penjualannya, orang-orang top ini juga
diharapkan bisa memotivasi anggota lain dalam komunitasnya. Karena itu,
mereka juga sering disebut sebagai top leader. Tak heran, perusahaan
multilevel marketing (MLM) ataupun direct selling, kerap menonjolkan
prestasi orang-orang top mereka masing-masing, sebagai bagian dari
promosi usaha. Pengalaman dan kisah hidup mereka yang dramatis hingga
menjadi distributor top – dan berarti juga menjadi orang kaya
baru – juga kerap diceritakan agar bisa menarik anggota baru
ataupun menyemangati anggota lama.
Yang kedua, tak lain produk andalan mereka masing-masing. Yang
ditonjolkan biasanya adalah keunikan dan diferensiasi yang kuat
dibandingkan dengan produk sejenis lainnya – walaupun biasanya
harganya relatif lebih mahal ketimbang produk sejenis yang dijual di
pasar konvensional.
Pengaruh distributor top tak bisa dianggap enteng. Malah, mungkin
lebih besar dibanding para pendiri/pemilik perusahaan penjualan langsung
itu. Bukan apa-apa, kontribusi mereka amat signifikan terhadap omset
perusahaan. SWA menemukan sejumlah nama distributor yang berperan
cukup kuat dan dominan.
Di CNI, yang disebut-sebut merupakan perusahaan MLM terbesar di
Indonesia, ada Alex I.W. Kepada SWA, ia pernah mengklaim jaringannya
memberi kontribusi hingga 80% pada omset perusahaan yang pernah mencapai
Rp 1 triliun ini (sebuah sumber menyebutkan omset CNI saat ini berada
di angka Rp 300-600 miliar – Red.).
Toh, di CNI, Alex tidak sendirian. Tepatnya saat ini terdapat 8 top
leader di posisi Crown yang menjadi penyangga utama penghasilan CNI.
Selain Alex, ada M. Ikhwan, M. Natsir Idris, Rusdhi Adhi, Kusnandi, Y.
Junaldi, Harijanto dan Iwan Anjuando Naibaho. Dominannya peran Alex
dibanding yang lainnya, lantaran empat dari 7 Crown di luar dirinya
berasal dari jaringan pria kelahiran Makassar, September 1961 ini.
Menurut S. Abrian Natan, CEO-Direktur Pengelola CNI, total anggota CNI
saat ini mencapai 700 ribu orang.
Besaran persentase Alex dan jaringannya kabarnya tak terpaut jauh
dibanding kontribusi Robert Angkasa dengan Network 21-nya di Amway.
Banyak pihak mengatakan kontribusi Robert yang mantan eksekutif Citibank
ini di kisaran 76%-81%. Di Amway, Robert sendiri merupakan pemegang
posisi Crown satu-satunya. Persis di bawahnya ada dua Double Diamond
yang notabene berasal dari jaringan Robert. Mereka adalah pasangan Paul
Agus & Linda, serta Yohanes Simatupang dan istri. Total jaringan
Amway Indonesia yang disebut-sebut sebagai perusahaan MLM terbesar kedua
ini di kisaran 300 ribu orang, dengan total omset Rp 300-350 miliar per
tahun.
Yang menarik sebenarnya mencermati kinerja Oriflame Indonesia (OI),
salah satu pemain di bisnis direct selling. Setelah hadir di Indonesia
selama 21 tahun (sejak 1986), baru beberapa tahun belakangan ini
kinerjanya meroket. Sumber internal di OI mengungkapkan, di tahun 2007,
perusahaan asal Swedia ini mencatat penjualan mendekati Rp 30 miliar per
bulannya. Anggota jaringannya berkisar 150-200 ribu orang/konsultan
(konsultan merupakan istilah distributor Oriflame).
Distributor top di perusahaan yang memasarkan produk kecantikan
wanita dan parfum ini adalah Cynthia Venika Lioe. Wanita yang kerap
mewarnai rambutnya ini berada di posisi Direktur Eksekutif Senior (DES).
Ini adalah level tertinggi satu-satunya yang berhasil diraih
distributor OI, bahkan di Asia (2006-2007). Untuk perbandingan, simaklah
Rusia – negara yang mencatat penjualan tertinggi di seluruh
jaringan Oriflame dunia – yang berhasil mengantarkan seorang
konsultannya ke level Presiden Direktur atau level tertinggi untuk
Oriflame global. Posisi DES sendiri berada empat level di bawah Presdir.
Jaringan yang dibentuk sarjana komputerisasi akuntansi dari
Universitas Bina Nusantara Jakarta ini, diklaim memberi kontribusi 50%
pada omset OI. Adapun pertumbuhan omset OI pada 2006 mencapai 100%,
sedangkan pada 2007 diperkirakan sekitar 30% atau Rp 300 miliar.
“Kami akan menjadi perusahaan direct selling nomor satu di
Indonesia,†ujar wanita kelahiran Bangka 8 Juni 1975 ini
optimistis. Kontribusi jaringan Cynthia terlihat nyata, sebab pada 2006
mencatat penjualan sekitar Rp 7 miliar, dan pada 2007 naik hingga ke
kisaran Rp 16 miliar per bulan.
Saat ini, di OI selain Cynthia terdapat sejumlah distributor top yang
juga mencatat penjualan tinggi. Posisi mereka sebagai Double Diamond
(DD) berada dua tingkat di bawah Cynthia. Sebutlah: Een Sugiarsi; Heni
& Dicky; Suyeni & Amin; Jenny/Selly; Diah Ayu/Susanto; dan
Oktavianus Yudistira. Tiga di antara 6 DD itu merupakan jaringan wanita
yang telah mengunjungi 25 negara sebagai bonus atas keberhasilan bisnis
mereka di OI.
Cynthia menargetkan pada 2008 bisa naik satu level lagi sebagai
Gold Executive Director. Bahkan bersama Smart Club – klub yang
didirikan Cynthia tahun 2000, untuk mendukung kinerja timnya –
wanita yang kini berpenghasilan di atas Rp 100 juta per bulan ini
memiliki visi mencetak 100 DD pada 2010, dan meraih posisi Predir pada
saat yang sama. Sebagai catatan, untuk mencapai posisi tertinggi itu ia
harus memiliki 50 direktur di bawahnya. Saat ini di posisi DES, Cynthia
membawahkan 18 direktur.
Perusahaan direct selling lainnya yang juga menarik dicermati adalah
Tupperware Indonesia (TI). Perusahaan yang disebut-sebut sedang tumbuh
pesat sepanjang 2007 ini memiliki distributor top yang tak pernah
tergoyahkan selama 7 tahun terakhir, yaitu Sofia Achmad dari Bandung.
Bahkan baru-baru ini sarjana teknik kimia dari Institut Teknologi
Bandung ini meraih Lifetime Achievement Award atas prestasinya itu. Tak
seperti di tiga perusahaan yang sudah disebut sebelumnya, di TI
kontribusi jaringan Sofia sebenarnya relatif tak dominan, walaupun
omsetnya masih paling tinggi. Bahkan sebuah sumber mengungkapkan Top Ten
distributor Tupperware termasuk Sofia hanya menyumbang kisaran 30%;
selebihnya (70%) disumbang oleh 70 distributor lainnya.
Saat ini 8 dari Top Ten distributor TI berasal dari luar Jawa. Hal
ini tentu saja tak umum, karena biasanya distributor asal Pulau Jawa
sangat dominan menyumbang omset perusahaan. Sofia mengaku tahun ini
kinerja timnya naik, baik dari sisi omset yang sekitar 34%, maupun
jumlah dealer (istilah distributor di TI) yang naik ke posisi manajer
sebesar 43% atau mencetak 119 manajer baru. Ini untuk periode
Januari-November 2007. Keberhasilan pada akhir 2007 disebabkan ia
melakukan banyak terobosan. Jika sebelumnya ia banyak menekankan unsur
fun dalam program-programnya, kini ia kombinasikan lagi dengan
menekankan misi mewujudkan impian distributor. “Jadi saya harus
banyak menanyakan apa yang sebenarnya menjadi mimpi mereka, lalu saya
membantu mewujudkannya,†ujar wanita berdarah Arab kelahiran
Malang 18 Februari 1961 ini.
Fenomena menarik juga terjadi di Usahajaya Ficooprasional (UFO).
Perusahaan MLM yang mendeklarasikan dirinya sebagai MLM syariah pertama
di Indonesia pada 2006 ini memiliki 8 top leader. Mereka ini
digolongkan sebagai Maskot UFO yang memberi kontribusi besar pada
kinerja perusahaan yang didirikan tahun 2000 oleh Fico Kaiser ini.
Mereka adalah Sahroni dan Iwan Gunawan yang berada di posisi tertinggi
yaitu Chairman; disusul Alberta A. Zebua (Crown Director/CD berbintang
empat); Muhammad Zaini (CD bintang lima); Imanuel Tikto (CD bintang
lima); Putu Eka Suryawan (CD bintang satu); Ricco & Lenny (CD
bintang dua); dan Thomas Widjaja (CD bintang satu). Menurut Suwanto
Herman, Direktur UFO, ke-8 nama ini memberi kontribusi 80% pada omset
UFO.
Diungkapkan Suwanto, dua Chairman teratas merupakan penyumbang omset
yang terbesar. Sebutlah jaringan Iwan yang memberi kontribusi 25%-27%
pada omset UFO; disusul jaringan Sahroni yang menyumbang 20%. Jaringan
Sahroni sendiri saat ini adalah yang terbanyak anggotanya di UFO.
Masih ada lagi perusahaan yang juga menarik disimak, yakni K-Link
Indonesia. Perusahaan MLM dengan produk andalan berbasis chlorophyl ini
memiliki empat nama yang berhasil meraih posisi tertinggi atau Royal
Crown Ambassador, yaitu: Irwansyah, Santoso Nyoto, Pradipto Kuswantoro
dan Erwin. Apabila dilihat dari banyaknya downline, jaringan Santosa
Nyoto berada di posisi tertinggi; disusul jaringan Erwin dan Irwansyah.
Yang menarik, menurut Manajer Pemasaran Senior K-Link Indonesia Djoko
Komara, dari seluruh jaringan K-Link di seluruh dunia, hanya Indonesia
yang mampu mencapai Royal Crown Ambassador. Berdasarkan perhitungan
logis, sebagai penguasa 90% jaringan K-Link Indonesia, Santoso merupakan
kontributor terbesar bagi omset K-Link Indonesia.
Tentu saja, keberhasilan para distributor top perusahaan MLM atau
direct selling ini mencapai puncak tak lepas dari kerja keras dan
perjuangan tanpa henti. Sebutlah, Sahroni dan Zaini. Keduanya memiliki
masa lalu yang suram, Sahroni sempat ngamen dan persis sebelum bergabung
dengan UFO di tahun 2001, ia menjadi tenaga sales di Auto 2000 dengan
gaji basis Rp 125 ribu sebulan. Adapun Zaini adalah mantan petugas
cleaning service di pusat belanja Golden Truly, Jakarta. Namun dalam
waktu dua-empat tahun, mereka berhasil meraih mobil dan rumah mewah.
Sebutlah, Sahroni kini memiliki tiga rumah, di antaranya sebuah rumah
mewah di Cibubur dan sebuah lagi di Indramayu. Selain itu suami Hartini
(40 tahun) ini memiliki pula sedan Jaguar dan Peugeot 206. Adapun
Zaeni, memiliki satu Jaguar, dua Panther Touring, plus satu rumah mewah
di Bintaro.
Tantangan menjadi sukses ternyata tak hanya datang dari masyarakat,
melainkan juga keluarga. Tengok saja pengalaman dramatis Zaini.
Istrinya, Sri Rahayu, pada 2003 menggugat cerai lantaran menganggap
suaminya yang kelahiran Purwodadi 13 Maret 1967 ini berkelakuan tidak
semestinya, seperti kerap pergi tanpa kenal waktu dan bepergian ke luar
kota selama menjadi anggota UFO. Bahkan bagi istrinya, target bonus
seperti rumah dan mobil mewah yang ingin dicapai Zaini sempat
dianggapnya ngawur. â€ÂIstri saya pernah melempar kipas angin dan
membakar baju-baju saya, karena saya dikira selingkuh di luar
kota,†ujar pria yang berpenampilan tenang dan terkesan pendiam
ini mengenang.
Untuk bisa menjadi distributor top, tentu harus punya prinsip kuat.
Lihatlah pada diri lajang bernama Cynthia, orang top di OI. Menurut
cewek yang kini berusia 32 tahun ini, dalam bekerja ia berprinsip,
“Jadilah role model dan insan yang berbobot,†ucap wanita
yang masuk dalam daftar Top 15 konsultan Oriflame dunia dengan omset
terbesar ini. Untuk itu ia harus menunjukkan kepada para downline-nya
bahwa ia bisa maju, dengan demikian downline-nya akan termotivasi.
Selain itu, ia berprinsip hidup ini hanya sekali, maka jadilah yang
terbaik.
Selain segelintir orang-orang top, kontribusi terbesar buat
perusahaan penjualan langsung juga biasanya berasal dari segelintir
produk-produk top. Ambil contoh CNI. Menurut Manajer Pemasaran CNI,
Tony, omset CNI ditopang hingga 40% oleh produk kategori makanan
kesehatan seperti Ester C, SunChorella, Omega 3 dan MOC. “Saat
ini kami dianggap sebagai penjual Ester C terbesar di kawasan Asia
bahkan dunia. Demikian halnya dengan SunChorella yang masih bertahan
selama 21 tahun,†ujarnya sambil menyebutkan bahwa saat ini CNI
memiliki 180 item produk.
Adapun di Amway, sekitar 50% omset dikontribusi oleh produk makanan
kesehatan Nutrilite. Ada empat produk Nutrilite, yakni: Salmon Omega3;
Daily 70; Acerola C; dan Protein Powder. Sementara itu, yang kedua
terbesar disumbangkan oleh produk kosmetik Artistry, yaitu 16%. Menurut
Pongky Rivawanto, Manajer Komunikasi dan Dukungan Pemasaran Amway,
tahun 2007 Amway fokus memasarkan dua kategori produk ini. Potret kedua
produk di atas tak berbeda jauh dari UFO.
Bagaimana dengan yang lainnya? Di UFO, menurut Suwanto, ada dua
produk yang dominan yaitu teh murbei (berkontribusi 20%-30%) dan kopi
(15%-20%). Jadi, diperkirakan kedua jenis produk ini memberi kontribusi
35%-50% bagi UFO.
Di TI, menurut orang dalamnya, saat ini sekitar 50% disumbangkan
oleh satu jenis produk yaitu gelas tumbler. Dikatakannya, produk ini
tetap laku baik dipromosikan maupun tidak.
Dan, di OI, ada 10 produk terlaris yang meliputi produk wewangian,
toiletris, skin care, dan colour cosmetic. Menurut Ted Boman, Penasihat
Teknis OI, produk best seller di bulan Oktober 2007 adalah Divine
Parfume dan LippGloss. Sebuah sumber di OI mengatakan, kontribusi
lipstik mencapai 30% omset OI. Ted menambahkan ada satu produk skin care
yang legendaris di Oriflame yang hingga hari ini terus dijaga, yakni
Tendercare. Produk ini sudah bertahan lebih dari 40 tahun, dan sampai
sekarang desainnya tetap dipertahankan seperti desain awal.
Singkat kata, distributor-distributor top dan produk-produk top,
merupakan dua hal yang berpengaruh terhadap moncer-tidaknya kinerja
perusahaan penjualan langsung.